Tampilkan postingan dengan label Pengenalan Teknologi Sistem Cerdas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengenalan Teknologi Sistem Cerdas. Tampilkan semua postingan

23 Desember 2016

Review Film : I, Robot (2004)

I, ROBOT

Film tentang kota Chicago tahun 2035 yang sudah dihuni oleh Robot pintar. Robot tersebut bernama NS-5. Robot tersebut awalnya digunakan untuk membantu kegiatan manusia sebagai asisten dengan cara menerima perintah dari suara manusia. Robot tersebut diciptakan berlandaskan 3 hukum, yaitu :
  1. Sebuah robot tidak boleh menyakiti manusia atau tidak membiarkan manusia terluka.
  2. Robot harus mematuhi perintah dari manusia kecuali beberapa perintah yang akan melanggar hukum pertama.
  3. Robot harus melindungi pemiliknya selama perlindungan itu tidak bertentangan dengan hukum pertama & kedua.
Kecanggihan lain pada robot tersebut adalah mampu mendeteksi identitas Manusia dan menebak hal yang sedang terjadi dan yang akan terjadi pada Manusia. Namun ada robot yang melawan dari ketiga hukum tersebut, yang dimulai dari  terbunuhnya seorang Ilmuwan yang diduga bunuh diri padahal robot tersebut yang melakukan dan kericuhan – kericuhan kota Chicago tersebut. Yang dikarenakan ada suntikan VIKI yatu otak Tiruan agar bisa bekerja seperti manusia namun revolusi yang ditimbulkan menyebabkan robot – robot terlihat agresif.
Dr. Calvin dan Sonny

Karna hal tersebut, seorang Detektif bernama Spooner (Will Smith) dibantu dengan Dr. Calvin (psikolog robot) dan Sonny (robot yang diciptakan berbeda) mencoba menghancurkan VIKI tersebut dan mendapat penghalangan dari robot – robot yang terpengaruh oleh VIKI tersebut. Cairan kimia pada VIKI diambil oleh Sonny dan Detektif Spooner berhasil menghancurkan cairan VIKI tersebut pada sebuah sistem untuk robot. Robot – robot yang telah berevolusi karena VIKi dapat menjadi semula.

Tanggapan :
Setiap manusia harus bersiap melawan perkembangan teknologi yang semakin canggih. Jangan sampai kecerdasan buatan semakin berkembang dengan beragam bentuk dan bisa menggantikan peran manusia.

Referensi
http://kikiseptyana.blogspot.co.id/2013/06/review-film-i-robot.html

20 Desember 2016

Probabilistic Reasoning


PROBABILISTIC REASONING
Reasoning berarti mengambil suatu keputusan atas suatu alasan atau sebab tertentu. Reasoning sendiri ada 2 jenis yaitu logical reasoning dan probabilistic reasoning. Salah satu kelebihan probabilistic reasoning dibandingkan logical reasoning adalah kemampuannya untuk mengambil keputusan yang rasional, walaupun informasi yang diolah kurang lengkap atau mengandung unsur ketidakpastian. Pada artikel ini, akan dibahas tentang Probabilistic Reasoning atau Ketidakpastian.
Probabilistic Reasoning adalah suatu yang memiliki kemampuan mengambil keputusan yang rasional walaupun informasi yang akan diolah kurang lengkap atau bersifat nonlinier. Probabilistic Reasoning merupakan salah satu dari metode Soft Computing selain Fuzzy Logic dan Neural Network. Ketiga metode ini merupakan tiang penyanggah bagi soft computing yang saling melengkapi dan bekerjasama dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Jadi kekurangan dari satu metode akan ditutupi oleh kelebihan metode yang lain.

Tiga kategori dari Probabilistic Reasoning :
1.      Teori Chaos
Teori chaos memiliki implikasi yang luas dalam analisis pengambilan keputusan. Teori chaos memberi pengertian bahwa suatu aksi sekecil pun dapat berimplikasi pada suatu akibat yang besar. Teori chaos juga memberikan pengertian bahwa dalam pengambilan keputusan senantiasa dihadapkan pada suatu potensi ketidakteraturan dan ketidakpastian sehingga batasan-batasan metode pengambilan keputusan tradisonal tidak mencukupi lagi. Teori chaos menuntut perubahan model mental yang sama sekali baru dan kreatif dari sang pengambilan keputusan. Sistem pintar dan kecerdasan berupaya mengantisipasi aspek ketidakpastian dan ketidakteraturan tersebut dengan mengadopsi logika berpikir manusia ke dalam mesin komputer. Dengan sistem pintar, suatu perangkat komputer dapat menganalisis suatu sistem permasalahan dan melakukan pengambilan keputusan.

2.      Belief Networks
Belief Networks (BN) adalah penalaran kausal, dimana BN telah banyak digunakan dalam berbagai aplikasi. BN sekarang ini menjadi andalan dalam bidang penelitian Flu Burung yang dikenal sebagai penalaran pasti. BN sendiri didasarkan pada hukum-hukum probabilitas.

3.      Genetic Algorithm <GA>
GA diperkenalkan oleh John Holland pada pertengahan tahun 70-an. GA adalah metode komputasi yang meniru proses evolusi dan seleksi alam. Metode ini sering dimanfaatkan untuk mencari nilai optimal suatu fungsi/permasalahan.
            
Beberapa keunggulan yang dimilki oleh GA adalah sebagai berikut :
  • GA memiliki kemampuan untuk mencari nilai optimal secara parallel, melalui kerjasama antara berbagai unit yang disebut kromosom individu.
  • GA tidak memerlukan perhitungan matematika yang rumit seperti diferensial yang diperlukan oleh algoritma optimisasi yang lain.
Namun demikian GA memiliki juga kelemahan dan keterbatasan:
  • Tidak memiliki rumusan yang pasti, bagaimana mentransfer parameter permasalahan ke dalam kode genetik. Dengan kata lain, hal ini memerlukan pengalaman dan wawasan dari desainer.
  • Banyak parameter yang perlu diset secara baik agar proses evolusi dalam GA berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
  • Penentuan rumus menghitung fitness merupakan hal yang sangat penting dan mempengaruhi proses evolusi pada GA. Sayangnya tidak ada prosedur yang baku bagaimana menentukan rumus tsb. Dalam hal ini pengalaman dari desainer memegang peranan penting. Terlepas dari kendala yang ada, GA merupakan alternatif solusi yang dikenal cukup handal dalam berbagai masalah optimisasi.      

Contoh dari Probabilistic Reasoning adalah Kasus Penyakit Ginjal.


Referensi



13 November 2016

Aplikasi Sistem Cerdas dalam Kehidupan Sehari-hari


Sistem Cerdas
Sistem Cerdas atau Kecerdasan Buatan dalam bahasa inggris Artificial Intelligence adalah suatu sistem informasi yang berhubungan dengan penangkapan, pemodelan dan penyimpanan kecerdasan manusia dalam sebuah sistem teknologi informasi sehingga sistem tersebut memiliki kecerdasan seperti yang dimiliki manusia. Sistem ini dikembangkan untuk mengembangkan metode dan sistem untuk menyelesaikan masalah, biasanya diselesaikan melalui aktifivitas intelektual manusia, misal pengolahan citra, perencanaan, peramalan dan lain-lain, meningkatkan kinerja sistem informasi yang berbasis komputer. Penerapan sistem cerdas dalam kehidupan sehari-hari sebagai berikut :
1. Vending Machine KCJ

Dalam layanan e-ticketing, KCJ kini sudah mulai menerapkan penggunaan mesin penjualan tiket yang diberi nama Commuter Vending Machine (C-VIM) dengan layar sentuh. Dalam pengoperasiannya, V-CIM dilengkapi 2 pilihan bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sehingga memudahkan bagi pengguna jasa lokal maupun asing. Keberadaan mesin tiket pada layanan KRL commuter line bertujuan untuk mengurangi antrean transaksi di loket.
Dengan hadirnya C-VIM, loket konvensional di stasiun-stasiun prioritas nantinya akan ditiadakan karena fungsinya sudah digantikan dengan mesin tiket. Sebab dengan C-VIM sudah bisa untuk melayani sales (pembelian baru tiket sekali jalan)/ Tiket Harian Berjaminan (THB), resales THB, refund tiket THB, maupun top up (isi ulang) Kartu Multi Trip (KMT) bisa dilakukan dengan mudah dan cepat melalui mesin pintar transaksi tiket KRL ini.

2. Lampu Lalu Lintas
Contoh lain dari penggunaan sistem cerdas adalah Sistem lampu lalu lintas atau alat pemberi isyarat lalu lintas yang bertujuan untuk dapat mengatur arus lalu lintas di sebuah persimpangan. Pengaturan durasi lampu hijau di tiap ruas dapat dilakukan secara statis maupun secara dinamis. Pengaturan durasi yang tepat, tidak hanya terwujud dengan kelancaran arus lalu lintas namun dapat juga terwujud dengan waktu tunggu kendaraan yang tidak terlalu lama di persimpangan.

3. OSHBot atau Robot Pelayan Toko


OSHbot atau robot pelayan toko. Robot ini adalah robot pintar yang akan memandu pengunjung toko ke barang yang akan anda beli dengan cara mengucapkan nama barang pada OSHbot. OSHbot memiliki tinggi 29.5 inchi dan siap memberikan pelayanan belanja yang menyenangkan.


Sumber :
http://www.kompasiana.com/amadsudarsih/commuter-vending-machine-mesin-loket-tiket-krl_568e4b04c923bdb908127c02
kursor.trunojoyo.ac.id/wp-content/uploads/2012/05/0602_p2.pdf 
http://noteinformatic.blogspot.co.id/2015/11/sistem-pakar-dan-kecerdasan-buatan.html 
http://kelilipanpaku.blogspot.co.id/2016/10/sistem-cerdas.html
 

16 Oktober 2016

REVIEW JURNAL : PERANCANGAN ROBOT CERDAS PEMADAM API DENGAN SENSOR THERMAL ARRAY TPA 81 BERBASIS MICROCONTROLLER ARDUINO MEGA 2560

oleh :   Alfith
            Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Padang
            alfith.st.tumangguang@gmail.com

ABSTRAK
       Perancangan Robot cerdas pemadam api ini merupakan kecerdasan buatan yang dikendalikan oleh mikrokontroller Arduino Mega 2560. Robot ini mampu mencari sumber api dan kemudian memadamkannya. Proses pencarian api dilakukan dengan cara memeriksa setiap ruangan apakah terdapat sumber api atau tidak. Pencarian titik api dilakukan dengan mendeteksi api menggunakan sensor Thermal Array TPA 81. Untuk memadamkan api digunakan kipas yang digerakkan secara otomatis menggunakan aplikasi motor DC. Robot menggunakan sensor PING ultrasonic range finder atau sensor jarak untuk memandu navigasi robot dalam pencarian pencarian ruangan, dan menghindari halangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa robot cerdas pemadam api yang dibuat dengan menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak yang dikontrol menggunakan mikrokontroller Arduino Mega 2560. Dari pengujian dan telah mengikuti KRI (Kontes Robot Indonesia) 2015 Regional I Sumatera di Palembang, dapat disimpulkan bahwa robot cerdas pemadam api ini dapat mendeteksi api pada jarak 1,8 m dan dapat memadamkan api dalam waktu rata-rata 20 detik.

Kata kunci: Robot cerdas, Arduino Mega 2560, Sensor Thermal Array TPA 81, motor DC, sensor PING

PENDAHULUAN
   Perkembangan dunia robotika memiliki unsur yang sedikit berbeda dengan ilmu-ilmu dasar atau terapan lainnya. Ilmu dasar biasanya berkembang dari satu asas atau hipotesa yang kemudian diteliti secara metodis, sedangkan ilmu robotika lebih sering dikembangkan melalui pendekatan praktis. Kemudian melalui pendekatan atau asusmsi dari hasil pengamatan perilaku makhluk hidup atau peralatan yang bergerak lainnya dikembangkanlah penelitian secara teoritis [1].
    Perkembangan robotik ini mendorong studi atau penelitian di bidang pengolahan visual (untuk menambah kemampuan robot), dan pengontrolan bagian-bagian robot (untuk pembuktian teori). Hal ini berkaitan dengan rancangan suatu bahasa pemograman dengan level lebih tinggi dan lebih fleksibel. Bahasa pemogrman dapat membantu mencari solusi sebelum diimplementasikan ke robot dengan cara mensimulasikan variabel-variabel yang berkaitan dan didukung dengan metode yang ada, seperti metode kecerdasan buatan. Salah satu cara untuk menambah tingkat kecerdasan robot adalah dengan menambah sensor pada robot tersebut. 

RINGKASAN JURNAL
    Perkembangan dunia robotika memiliki unsur yang sedikit berbeda dengan ilmu-ilmu dasar atau terapan lainnya. Ilmu dasar biasanya berkembang dari satu asas atau hipotesa yang kemudian diteliti secara metodis, sedangkan ilmu robotika lebih sering dikembangkan melalui pendekatan praktis.   
    Kebakaran merupakan masalah klasik dalam kehidupan manusia, dimana usaha pemadamannya mengandung resiko tinggi. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dikembangkan prototype robot pemadam api beroda dengan penambahan pada hardware yaitu sensor api TPA 81 sebagai modul pendeteksian api pada setiap ruangan.
    Alat yang digunakan untuk merancang robot pemadam api yaitu : 
  1. Microcontroller Arduino Mega 2560
  2. Sensor Thermal Array TPA 8.1
  3. Sensor PING Ultrasonic Range Finder
  4. Modul Driver Motor DC
  5. Modul Driver Kipas
  6. Modul LCD
TINJAUAN PUSTAKA
   Kebakaran merupakan masalah klasik dalam kehidupan manusia, dimana usaha pemadamannya mengandung resiko tinggi. Usaha untuk menghasilkan robot yang mampu memadamkan api telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya, dan bahkan telah dijadikan sebagai bahan kompetensi dalam pembelajaran [2]. Pada penelitiannya, (Rianto, 2009) telah merancang prototype robot pemadam api menggunakan perangkat sensor yang berperan utama pada sistem navigasi dalam pencarian dan pemadaman api yaitu sensor jarak dinding (PING Ultrasonic) dan sensor api (UV Tron) dengan persentase hasil pengujian yang memuaskan [3]. Terdapat kelemahan dari kehandalan perangkat sistem navigasi robot dan strategi algoritma dalam mengeksplorasi ruangan untuk mencari dan mendeteksi api masih belum optimal baik disegi perangkat hardware dan software sehingga masih perlu adanya pengembangan sistem.
   Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dikembangkan prototype robot pemadam api beroda dengan penambahan pada hardware yaitu sensor api TPA 81 sebagai modul pendeteksian api pada setiap ruangan. Robot akan berjalan, bermanuver serta akan meniup lilin dan sensor aktivasi robot berupa suara sebagai sinyal pengaktif program utama untuk menjalankan robot dengan pengendali oleh mikrokontroler. Perangkat tambahan lain adalah penambahan sensor PING pada bagian sisi kanan, serong kanan, kiri, serong kiri dan sisi depan robot, dan sebuah LCD (Liquid Crystal Display) untuk menampilkan data informasi pengukuran, serta kalibrasi data sensor untuk pengujian sistem. Pada bagian software meliputi pengembangan algoritma teknik navigasi serta pencarian api dengan metode navigasi wall follower [2].
   Tujuan prototype robot pemadam api beroda ini adalah merancang dan mengembangkan sebuah sistem kendali navigasi robot pemadam api dengan mengaplikasikan sensor api TPA 81 dan sensor PING))) ke dalam bentuk sistem kendali otomatis dengan teknik algoritma cerdas yang diharapkan agar dapat membangun suatu robot yang dapat mendeteksi keberadaan sebuah lilin yang menyala yang disimulasikan pada suatu ruangan dan kemudian memadamkannya sesuai arah diagram alir.

A. Microcontroller Arduino Mega 2560
 
Gambar 1. Arduino Mega 2560

B. Sensor Thermal Array PTA 8.1
Gambar 2. Sensor Api TPA 8.1 

Gambar 3. Rangkaian Sensor Thermal Array TPA 8.1


C. Sensor PING Ultrasonic Range Finnder
      Sensor dinding digunakan sebagai sensor jarak untuk menentukan aksi yang akan dilakukan oleh robot dalam menentukan jarak antara robot dengan dinding. Sensor ini berfungsi sebagai navigasi yang dipadukan dengan Signal conditioning dari sensor tersebut dengan output berupa lebar pulsa. Pada dasanya, Ping))) terdiri dari sebuah chip pembangkit sinyal 40KHz, sebuah speaker ultrasonik dan sebuah mikropon ultrasonik. Speakerultrasonik mengubah sinyal 40 KHz menjadi suara sementara mikropon ultrasonic berfungsi untuk mendeteksi pantulan suaranya. Pada modul Ping))) terdapat 3 pin yang digunakan untuk jalur power supply (+5V), ground dan signal. Pin signal dapat langsung dihubungkan dengan mikrokontroler tanpa tambahan komponen apapun. Ping))) mendeteksi objek dengan cara mengirimkan suara ultrasonik dan kemudian “mendengarkan” pantulan suara tersebut.
Gambar 4. Sensor PING

D. Modul Driver Motor DC
    Driver motor digunakan sebagai penghubung antara mikrokontroler ke motor DC Servo. Digunakan driver motor ini karena arus yang keluar dari mikrokontroler tidak mampu mencukupi kebutuhan dari motor DC. IC L298N dapat digunakan untuk mengerakan motor DC Half-Bridge sebanyak empat buah atau dua motor DC fullbridge [4]. IC ini mempunyai 4 pin input yang bersesuaian dengan 4 pin output-nya. Selain itu juga terdapat 2 pin Enable untuk pin output 1,2 dan pin output 3,4 [5]. Bentuk fisik rangkaian driver diperlihatkan pada Gambar 4.
Gambar 5. Rangkaian Driver Motor DC Menggunakan IC L298N

E. Modul Driver Kipas
Driver motor kipas digunakan sebagai penghubung antara mikrokontroler ke motor DC. Driver ini menggunakan sebuah transistor jenis BD139 sebagai trigger input ke mikrokontroler dan sebagai output penggerak kipas menggunakan sebuah relay DC 6V. Gambar memperlihatkan skematik rangkaian driver kipas.
Gambar 6. Rangkaian Motor Driver Kipas 

F. Modul LCD
LCD (Liquid Crystal Display) untuk menampilkan data informasi pengukuran, serta kalibrasi data sensor untuk pengujian sistem. Pada bagian software meliputi pengembangan algoritma teknik navigasi serta pencarian api dengan metode navigasi wall follower [2]. TeknikKomunikasi yang digunakan bisa data 8 bit atau 4 bit. Jika menggunakan komunikasi 4 bit, maka pin LCD untuk data yang digunakan adalah DB4-DB7. Skema rangkaian LCD 16 x 2 ditunjukan pada Gambar6. 
Gambar 7. Rangkaian LCD 16 X 2

 
Gambar 8. Blok Diagram Robot Cerdas Pemadam Api

 
Gambar 9. Diagram Alir Sistem Keseluruhan Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN
    Hasil penelitian menunjukkan bahwa robot cerdas pemadam api yang dibuat dengan menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak yang dikontrol menggunakan mikrokontroller Arduino Mega 2560 dengan bantuan Sensor Api TPA 81, serta Sensor PING, yang kemudian dipadukan dengan driver motor dc dan driver kipas dapat melaksanakan tugas atau perintah dengan baik.

a) Pendeteksian Jarak Menggunakan Sensor Ultrasonik
    Pada pengujian sistem navigasi robot data diambil berdasarkan ruang arena robot. Setiap kondisi yang ada di ruangan datanya diambil dan dari data tersebut akan dijadikan referensi robot dalam menentukan arah gerakan. Untuk menentukan robot belok atau tidak mengambil acuan dari jarak yang didapat dari sensor jarak kiri, serong kiri, kanan, serong kanan dan sensor depan. Setelah semua keadaan ini didapatkan robot akan membandingkannya dengan referensi yang telah didapatkan sebelumnya. Setelah pembandingan dilakukan kemudian robot melakukan keputusan belok kiri, belok kanan, berjalan lurus ataupun mundur.
    Pengujian sensor ini dilakukan dengan mencocokkan besarnya jarak yang ditentukan dengan hasil pengukuran yang dilakukan oleh program. Berdasarkan datasheet sensor ultrasonik PING))), kecepatan suara adalah 1130 kaki/detik atau setara dengan 3442.4 cm/detik. Sehingga 1 cm dapat dalam 29.034 ฮผS, sehingga untuk mendapatkan jarak ditentutkan dengan menggunakan rumus
Keterangan :
s : Besarnya jarak antara sensor denganobjek (cm)
t : Waktu dari ketika pulsa dikirimkansampai pulsa diterima
T : Waktu yang diambil olehmikrokontroler setiap 10 ฮผS dariketika pulsa dikirimkan sampai pulsa diterima (ฮผS)
v : Kecepatan suara v = 3442.4 cm/s
k : Konstanta waktu untuk mode AVR Atmega 64 = 10 ฮผS

Gambar 10 menunjukkan posisi pengujian sensor ultrasonik terhadap dinding. Hasil pengukuran dibandingkan dengan jarak sesungguhnya yang sudah diatur terlebih dahulu.
 
Gambar 10. Posisi pengujian sensor ultrasonik

 Berikut hasil pengukuran sensor ultrasonic PING : Data hasil pengukuran menunjukkan kinerja sensor ultrasonik PING cukup akurat untuk mengukur jarak.
 
Tabel 1. Hasil pengukuran sensor ultrasonik
b. Pengujian Sensor Api TPA 8.1   
    Sensor Thermal Array TPA 8.1 adalah sensor yang membaca radiasi panas. Sensor ini digunakan untuk mendeteksi infra merah pada panjang gelombang 2ฮผM – 22ฮผM, yang merupakan panjang gelombang dari radiasi panas. Sensor ini memiliki 8 buah sensor panas yang tersusun dalam satu baris. TPA 81 dapat mengukur suhu pada 8 titik yang berdekatan secara bersamaan dan dapat mendeteksi api lilin pada jarak 2 meter dengan tidak terpengaruh oleh cahaya luar. Secara keseluruhan, TPA 81 memiliki range horisontal sebesar 41° dan range vertikal sebesar 6°. Sensor ini dapat mendeteksi api lilin dari jarak sekitar 2 meter. Data yang dihasilkan dari sensor thermal array berupa data biner 8 bit dari masing-masing pixel sensor yang merupakan data suhu yang terukur. Misalkan pada salah satu sensor mendeteksi suhu sebesar 48°C, maka data yang dihasilkan pada sensor tersebut adalah 48 (30H). Sensor thermal array memiliki 10 register yang dapat diakses dengan menggunakan protokol I2C. Data suhu dari tiap-tiap pixel sensor terdapat pada register - register ini.
    Modul sensor Thermal Array dengan komunikasi protokol I2C ini sama dengan modul kompas elektronik. Alamat fix dari sensor ini adalah 0xD0. Selanjutnya membaca data register dengan mengirimkan nilai alamat register yang diinginkan. Data sensor ada pada alamat register 0×02-0×09 untuk data sensor pixel 1-pixel 8. Untuk sistem komunikasi I2C secara keseluruhan sama dengan modul kompas elektronik, yang berbeda hanyalah alamat dari modul dan register-register yang dibaca. Sedangkan caracara komunikasinya sama, yaitu dengan menggunakan sistem komunikasi standard I2C. Data yang terbaca pada register-register yang menyimpan data sensor tiap pixel adalah data 8 bit yang mempresentasikan nilai suhu yang terukur. Secara umum, cara untuk mendapatkan nilai-nilai suhu dari sensor thermal array sama seperti pada kompas elektronik, yang berbeda hanyalah pada alamat register yang akan dibaca dan alamat device-nya
Tabel 2. Register protokol DLC

c. Pengujian software Arduino
Perancangan software ini menggunakan software Arduino 1.0.5-r2, yang kemudian dikompilekan ke Arduino Mega 2560
Gambar 11. Tampilan perancangan software Arduino 1.0.5-r2

d. Pengujian Sistem Keseluruhan
Pengujian secara keseluruhan ini dilakukan untuk melihat kinerja semua blok rangkaian yang telah dirancang. Parameter pengujian ini adalah waktu yang diperlukan robot dalam mencari dan memadamkan api serta kembali ke posisi awal (home). Denah lapngan pengujian dilihat pada gambar 12.
Gambar 12. Lapangan Pertandingan (pada tanda * ada pita putih selebar 2.5 cm)

Kondisi area lapangan perlombaan :
Lapangan perlombaan merupakan gabungan dari dua lapangan pemadam api type Trinity College yang berbentuk simetris (cermin) antara daerah Merah dan daerah Biru. Lapangan terbuat dari papan multipleks dengan tebal 2 cm. Bentuk dan ukuran Lapangan ditunjukkan pada Gambar 12. Warna lantai untuk sisi merah maupun biru sama, yaitu hitam. Pada beberapa tempat dilapisi karpet berwarna merah di sisi merah dan biru di sisi biru yang lokasinya ditunjukkan pada Gambar 12. Sedang dinding berwarna putih.
Letak lilin dan perlengkapan lilin :
Di lapangan ini ada 5 lilin. Dua di lapangan merah, dua di lapangan biru, dan satu di lapangan antara merah dan biru, yaitu di ruang 2. Letak dua lilin di lapangan sendiri bisa di ruang 1 dan 3, ruang 3 dan 4, atau ruang 1 dan 4. Di antara kedua lilin tersebut, salah satunya memakai juring. Di dalam Ruang 1 dan Ruang 3 akan ada masing-masing satu furniture. Di sekitar ruang 4 akanada satu boneka. Kemungkinan letak lilin (bintang), furniture (bulat kuning), dan boneka (gambar persegi) ditunjukkan pada Gambar13. Posisi start bisa di lorong, atau di salah satu ruang yang tidak ada lilinnya.
 Gambar 13. Kandidat posis furniture, lilin dan boneka

Posisi lilin, juring, furniture dan boneka akan ditentukan melalui undian. Contoh lapangan dan posisi perlengkapannya ditunjukkan pada Gambar 14.
Gambar 14. Contoh posisi lilin, furniture dan boneka

Dimensi Robot Divisi Beroda
Dimensi robot (panjang x lebar x tinggi) maksimum adalah 31 cm x 31 cm x 27 cm, begitu apapun dari robot dilarang, melebihi dimensi tersebut pada kondisi apapun, baik waktu berhenti, berjalan, bermanuver, maupun pada saat meniup lilin. Panitia akan menggunakan berbagai cara untuk mengukur robot peserta. Ukuran itu adalah MAKSIMUM. Peserta diminta membuat robotnya jangan terlalu mepet ke ukuran maksimum tersebut, paling tidak 1 cm lebih kecil. 
Gambar 15. Robot Pemadam Api Divisi Beroda ITP

KESIMPULAN
Dari pengujian dan telah mengikuti KRI (Kontes Robot Indonesia) 2015 Regional I Sumatera di Palembang, dapat disimpulkan sebagai berikut: 
  1. Robot cerdas pemadam api ini dapat mendeteksi api pada jarak 1,8 m dan dapat memadamkan api dalam waktu rata-rata 20 detik.
  2. Aplikasi penggunaan 5 buah sensor Ping robot telah meningkatkan kemampuan sistem untuk mendeteksi halangan tiap sudut untuk memudahkan robot dalam bernavigasi menggunakan teknik algoritma wall follower.
  3. Semua blok kerja dari pengembangan sistem bekerja tercapai dan sesuai dengan perintah/instruksi dari mikrokontroller
DAFTAR PUSTAKA
  • [1] Rully M Iqbal, R Dikairono & Tri AriefS., “Implementasi Sistem Navigasi Behavior_Based Robotic dan Kontroler Fuzzy Pada manuver Robot Cerdas Pemadam Api”, Jurnal Teknik POMITS Vol 1 No. 1, 2012, 1- 8.
  • [2] Susilo, Deddy. 2010. Wall Following Algorithm. UKSWS-Press. Salatiga
  • [3] Rianto, Adi. 2009. Robot Pemadam Api. Tugas Akhir. Fakultas Teknik Universitas Riau. Pekanbaru.
  • [4] ST Microelectronic. 2000. Dual Full Bridge Driver L298. Datasheet Archive. Italy.
  • [5] Parallax Inc. 2006. PING))) TM Ultrasonic Distance Sensor(#28015)•v1.3. Available at: www.parallax.com (27 Januari 2015).
  • [6] Panduan KRI (Kontes Robot Indonesia)– KRPAI (Kontes Robot Pemadam Api Indonesia) 2015, http://kri2015.usm.ac.id/file/materi/KRPAI2015%20Rule%20Book.pdf (27Januari 2015)